jump to navigation

Atasi kecelakaan, saatnya insentif angkutan lebaran September 7, 2011

Posted by ilham in Kampanye, Sharing, Stop Press.
trackback

Saya tertarik dengan kekecewaan bro Boerhunt terhadap pernyataan menteri perhubungan terkait tingginya angka kecelakaan selama mudik. Memang menarik dikiritisi bahwa  pernyataan sang menteri terlalu menyudutkan pengendara. Meskipun statistik yang ada sementara ini memang menujukkan bahwa faktor manusia masih menempati angka tertinggi sebagai faktor penyebab, namun seyogyanya pemerintah jauh lebih proaktif terhadap situasi ini. Bukan hanya bisa mengeritik atau malah pasrah.

Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan memberi insentif terhadap pengguna/an kendaraan umum seperti bus atau kereta api. Tujuannya untuk merangsang kembali orang mengutamakan kendaraan umum untuk mudik.

Insentif itu berupa penyediaan sarana transport massal yang lebih baik, namun harganya bisa lebih murah. Kok bisa? Ya, bisa saja jika pemerintah bisa mempertimbangkan memberi subsidi bagi kendaraan umum maupun penumpang yang mengikuti program mudik lebaran.

Saya tidak tahu apakah di luar negeri ada hal semacam ini. Tapi saya sekadar membayangkan bahwa jika misalnya naik kendaraan umum selama mudik justru dibuat murah, tentu akan banyak yang tertarik. Katakan ada perhitungan, mudik sebelum H-7 maka akan ada potongan 50% dari harga normal. Begitu pula selama H- dan H+ ada diskon progresif. H-7 diskon 40%, H-6 diskon 30%, H-5 diskon 20 %, H-4 diskon 15 %, H-3 diskon 10 %, H-2 diskon 5% dan H-1 diskon 2,5%. Sebaliknya pas arus balik jg begitu.

Pemerintah juga bisa mendorong ATPM atau perusahaan-perusahaan untuk melakukan mudik bareng. Pemerintah misalnya, dapat membantu mempermudah berbagai hal. Mulai dari pengawalan, pembebasan biaya-biaya yang tidak perlu di jalan, hingga menyediakan cek point atau apa saja yang memotivasi mereka untuk ini. Bukan sebaliknya dipesulit, apalagi dipajaki.Toh saya beberapa kali membaca adanya apresiasi dari Polri terhadap mudik lebaran ATPM. Tentu ini bisa menjadi modal untuk dikembangkan.

Pemerintah semestinya juga menyediakan angkutan umum massal yang lebih banyak. Ini  lebih penting lagi untuk angkutan mudik melalui darat, mengingat inilah opsi utama yang ditinggalkan para bikers.  Bukan justru dikurangi. Seperti kita ketahui, tahun ini jauh-jauh pemerintah sudah memperkirakan adanya penurunan jumlah pengguna Kereta Api sehingga mengurangi jumlah moda angkutan ini. Saya kaget juga bahwa setelah bro Boer menyatakan bahwa ternyata tahun ini PT. KAI tidak lagi menyediakan fasilitas angkut motor bagi pemudik, 1 motor 1 pengendara 1 penumpang (1 motor + 2 orang).

Mengambil kebijakan untuk mengurangi jumlah berkendara motor. Saya setuju dengan Boer bahwa pemerintah mestinya tidak  menghapus larangan pemudik roda dua untuk melakukan perjalanan malam saat mudik/balik. Tidak jelas bagi saya mengapa pada tahun ini motor dibebaskan mudik malam, sementara tahun lalu dilarang.

Asumsi bahwa mudikers selalu senang memakai motornya untuk mudik daripada menggunakan kendaraan umum harus dipatahkan. Caranya dengan memberi mereka pilihan kendaraan yang lebih baik, namun tetap murah. Juga biarkan mereka bisa mudik bareng motornya, tanpa harus mengendarainya. Caranya dengan dikirim dengan biaya yang terjangkau (seperti di kereta api tadi).

Saya cuma prihatin, dengan bergandanya kecelakaan tahun ini justru tidak ada tanggungjawab pemerintah sama sekali. Cuci tangan, hanya akan mengumpankan lebih banyak bikers lagi di jalan-jalan mudik yang panjang, melelahkan, dan penuh korban. Sampai kapan?

Komentar»

1. Santay - September 8, 2011

Pertamax…??

2. Santay - September 8, 2011

Pemudik sepeda motor makin banyak karena memang pemilik & pengguna motor skrg makin banyak. Banyak diantara pemudik ini yg merupakan orang2 yg baru memiliki & menggunakan motor dlm kesehariannya. Biarpun skill & jam terbang mereka kurang, tp mereka tetap memaksakan diri menggunakan motornya untuk perjalanan jauh. Ini biasanya dilakukan karena kalau mereka mau menggunakan angkutan umum harga tiket terlalu mahal, tidak sesuai dgn tuslah yg ditetapkan pemerintah. Mau naik kereta api…?? Jangankan musim mudik, musim liburan aja padatnya minta ampun, sampe2 mau berdiri lurus dgn kedua kaki aja sangat susah. Maaf, yg saya sebutkan disini adalah bus & kereta untkuk kelas ekonomi. Saya tidak tahu hal ini terjadi jg dikelas bisnis atau eksekutif atau tidak. Opini ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya mudik setelah bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta.

ilham - September 8, 2011

Pemecahannya harus pada kebijakan yg kreatif. DPR sebagai pembuat kebijakan harus memberi perhatian dalam wujud alokasi pendanaan dan kontrol thadap realisasinya. Subsidi bolehlah.

Pihak dephub harus bs mengeksekusi bersama-sama PU dan Polri.

3. Dismas - September 8, 2011

Wah, gimana taun depan yah? mudah – mudahan bisa lebih ditekan lagi angka laka lantasnya😀

nitip mas➡ http://dizmaz.wordpress.com/2011/09/08/info-sok-absorber-alternatif-jika-sok-absorber-asli-dirasa-kemahalan/

4. boerhunt - September 8, 2011

:2thumbup ide yang bagus mengenai insentif dan diskon H-n H+n, kalo dipikir2 kondisi lebaran seharusnya penumpang makin membludak, seharusnya justru bisa menurunkan harga, bukan kebalikannya, nah..seharusnya pemikiran ini ada dikepala pengambil keputusan untuk mengaturnya, bukannya ucapan ekstasi yg muncul.. asli koplak..

5. mbah min - September 8, 2011

senarnya bukan kemauan / pilihan utama kami memnggunakan sepeda motor ke solo, ja-teng, tapi apa daya, kereta api ekonomi tidak manusiawi blas!!, yg bisnis apalagi yg kelas argo – argo nan harganya selangit. bis-bis juga sama saja harganya nggak kira-kira muahalnya.
selalu saja begini masalahnya, mudah-mudahan suatau saat ada sarana angkutan massal, murah dan manusiawi
tentunya.

ilham - September 8, 2011

Betul, sy juga pernah merasakan gimana rasanya naik kreta api jakarta-yogya PP berkali2. Ekonomi. Juga bus trayek yg sama, ekonomi. Jgankan periode lebaran, hari2 biasa juga masyaalloh. Karena itu perbaikan harus dilakukan.

Yg kita sgt sesalkan pemerintah selalu menyalahkan korban. Padahal kalo cuma bs ngomong, lebih baik jadi pengamat. Jangan jadi pemerintah…

6. harisxyz - September 9, 2011

Pernahkah mentri perhubungan (baca transportasi) adalah orang yang benar-2 ahli di bidangnya ?

slogan negri jiran lebih baik:
“rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan”

http://harisxyz.wordpress.com/2011/09/09/stnk-indonesia-vs-malaysia/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: